Pendidikan Karakter di Pesantren
Kala itu saya dalam perjalanan pulang dari
kelas menuju rumah. Mata saya tertuju pada 2 orang santri yang sedang asyik
mencuci mobil pondok. Di samping mereka ada temannya yang sedang menyapu
halaman pondok. Ya, mereka adalah harisul ma’had (piket) pada hari itu yang
memiliki tugas seabreg, dari mulai menjaga kebersihan pondok, keamanan, dan
beberapa tugas insidental lainnya. Terenyuh memang, melihat siswa seumuran SMP
memiliki tugas yang cukup berat yang sangat tidak mungkin mereka kerjakan di
rumah. Tapi di pesantren ini, tugas-tugas tersebut sudah menjadi paket
pendidikan yang diberikan pesantren bagi santri-santrinya.
Terus terang, praktek pendidikan yang terlihat
di atas adalah adopsi dari pendidikan karakter yang diterapkan di Pondok Modern
Gontor, afiliasi pesantren kami sejak awal pendidiriannya. Bagi kami,
pendidikan bukan saja menyimpan santri-santri duduk manis di kelas dan mendapat
transfer pengetahuan dari guru-guru mereka. Iya, pendidikan dan pengajaran di dalam
kelas sangat penting – dan kami juga menjadikannya hal yang utama, tapi itu
saja tidak cukup. Anak-anak kita perlu kita didik bagaimana supaya hidup
sederhana, menghilangkan sikap feodal, bekerja keras, bekerjasama dengan
rekan-rekan dan pembelajaran hidup lainnya.
Saya kira pendidikan seperti ini sangat jarang
kita temui mengingat realitas pendidikan yang berkembang di negeri ini lebih
mendewakan aspek kognitif daripada aspek-aspek lainnya. Anak-anak kita dibekali
dengan ilmu pengetahuan yang cukup, akan tetapi mereka miskin pendidikan
karakter. Coba anda lihat fenomena menyesakkan yang melingkupi perjalanan
anak-anak kita di sekolah; tawuran antar pelajar, free sex, narkoba, bullying, genk motor, dan lain
sebagainya. Mereka kaya otak, akan tetapi sayangnya miskin hati. Penyebabnya
tidak lain, menurut saya, adalah pengkerdilan pendidikan menjadi proses
transfer ilmu di dalam kelas saja, melupakan celah-celah lain dari proses
pendidikan.
Seperti yang saya paparkan tadi, pendidikan
tidak boleh direduksi dengan hanya memberikan peserta didik kesempatan untuk
duduk manis dalam sekat kelas, tapi pendidikan memiliki makna dan cakupan yang
sangat luas, seluasnya bidang kehidupan manusia. Lembaga pendidikan hendaknya
memanfaatkan setiap celah sekecil apapun sebagai bagian dari pendidikan.
Pendidikan meliputi apa yang anak-anak dengar, yang mereka lihat dan yang
mereka rasakan. Saya kira sungguh tidak bijak, demi alasan efesiensi atau hal
lainnya, celah yang seharusnya menjadi kesempatan mendidik anak-anak kita,
menjadi hilang begitu saja.
Maka wajar kalau di pesantren kami, dan
mayoritas pesantren-pesantren lainnya, santri akan memiliki seabreg aktivitas
di luar pembelajaran di dalam kelas dimulai dari aktivitas di dalam asrama, di
lapangan, di pramuka, di sanggar seni, di organisasi pelajar sampai kegiatan di
dalam unit usaha pesantren. Tentunya itu semua bukanlah tanpa makna karena di
dalamnya terkandug pendidikan sosialisasi, sportivitas, leadership, ketekunan, tanggungjawab
sampai kewirausahaan.
Ya, benar, di pesantren anak-anak dididik
semangat kewirausahaan dengan menempatkan mereka di unit-unit usaha pesantren.
Ada yang berjibaku dengan kebutuhan santri di koperasi pelajar, bergelut dengan
jasa telekomunikasi dan informasi di wartel dan warnet, sampai bekenalan dengan
segala jenis makanan di kantin pelajar. Semuanya itu kami delegasikan ke
anak-anak sebagai bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan. Yang menjadi
catatan: mereka semuanya tidak mendapatkan upah, bahkan tetap harus tetap
membayar SPP.
Sekilas kalau dilihat dari sudut pandang
materialistik dan mungkin perpektif mayoritas manusia sekarang ini apa yang
kami lakukan sangat tidak manusiawi dan bentuk lain dari romusha. Bagaimana
tidak, peserta didik ‘dipaksa’ untuk menggerakan roda unit usaha tanpa diberi
upah sepeser pun. Mereka harus membagi waktu belajar mereka dengan
kegiatan-kegiatan di unit usaha tersebut.
Namun kami tidak memandangnya seperti itu.
Seperti yang telah saya utarakan di atas, pendidikan tidak dapat direduksi
dengan pembelajaran di dalam kelas saja, tapi hendaknya pendidikan dimaknakan
dengan luas, seluasnya bidang kehidupan manusia. Penugasan peserta didik di
unit usaha pesantren tersebut adalah bentuk lain dari pendidikan bagi
anak-anak. Di dalamnya ada pendidikan kewirausahaan, mental, kejujuran, kerja
keras, bekerja sama, menghilangkan sikap feodal dan lain sebagainya. Meskipun
unit usaha tersebut mendapatkan profit yang kurang maksimal, dan bahkan ada
yang rugi sama sekali, kami tetap mempertahankannya, karena tadi, demi memberikan
ruang pendidikan kewirausahaan bagi mereka.
Selain mengelola unit-unit usaha santri juga
mendapatkan tugas-tugas berat lainnya. Bagian keamanan OSPC, misalnya, mendapat
pendidikan tanggungjawab dalam mengatur roda kehidupan santri selama 24 jam. Haris ma’had lail (Piket malam), haris ma’had nahar (piket siang) yang ditunjuk
secara bergiliran mendapatkan pendidikan tanggungjawab, kerja keras dan
kesederhanaan dengan menjaga lingkungan pondok selama 24 jam. Santri-santri
juga terbiasa mengikuti kerja bakti, bersih-bersih lingkungan pesantren, ngecor, dan lain sebagainya sebagai
bentuk pendidikan sosial dan melatih kepekaan sosial mereka.
Pendidikan seperti ini selaras dengan pendapat Dr.
KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA.,pembaharu pendidikan Islam di
Indonesia, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, yang menyatakan bahwa
pendidikan adalah penugasan, pembelajaran, pembiasaan bahkan pemaksaan. Lebih
lanjut lagi beliau mengatakan bahwasanya semua yang anak dengar, lihat dan
rasakan haruslah bentuk pendidikan.
Ketika bangun tidur pagi hari di sana ada
pendidikan disiplin, ketika mengantri di WC atau dapur umum di sana ada
pendidikan kesabaran, ketika santri bermain sepak bola di lapangan di sana ada
pendidikan sportivitas, dan lain sebagainya.
Kami semakin percaya diri dengan pendidikan
yang kami terapkan ketika Prof. M. Nuh, Mendikbud sekarang mengarusutamakan
pendidikan karakter dalam program kerjanya. Bagi kami, pendidikan karakter yang
sebenarnya hanya akan ditemukan di lembaga pendidikan pondok pesantren karena
di sana setiap detik tidak akan tersia dan merupakan proses dari pendidikan.
Apakah ini yang anda cari bagi anak-anak anda?
No comments:
Post a Comment